Selasa, 22 Februari 2011

sebuah tulisan ketika waktu di SMA..

Di balik sebuah judgement selama ini

Hell-o bray, coy, jim, tjoy, brad, lur, atau apapun kata sapaan semacam itu (hehe)

Saya Miqdad, ya seorang pelajar yang bersekolah di sebuah sekolah yang berada di sebelah barat kota Bandung,

yang berisi murid-murid tidak waras dan guru-guru yang terlampau waras.

Mungkin kritik adalah istilah yang terlalu lembut, karena sekalipun ada banyak yang mengutarakannya dengan sindiran, ada jauh lebih banyak orang yang tidak bisa menjauhkan diri dari ucapan ‘brengsek,’ ‘kurang ajar,’ ‘busuk,’ dan ‘bajingan.’

Sebagian besar pengirim kata-kata tersubut itu adalah cewek, tapi sesekali juga ada cowok sok idealis dan merasa diri pintar yang ikutan melemparkan kecaman pada saya (terlebih seseorang seperti saya)

Lalu apa respon saya ketika membaca semua cercaan yang mengerikan itu?

Saya biasanya tersenyum.

Walaupun saya harus akui, most of the time Saya lebih dari sekedar tersenyum.

Saya akan tertawa begitu kerasnya sampai terasa sakit perut.

Tapi bukan tertawa melecehkan.

Saya tertawa untuk mengalihkan rasa iba dan simpati yang Saya rasakan karena para mereka itu sama sekali tidak mengerti apa yang mereka lakukan.

Ya, saya kadang menggunakan tawa sebagai defence mechanism agar saya tidak merasa lemah.

Hahahahaa (¬_¬)

See we just did it again?

Saya sangat mengerti dimana tempat orang yang yang ngomonng miring tentang saya tersebut berdiri.

Mereka adalah para prajurit Sailormoon, pembela kesucian cinta.

Mereka sangat menjunjung tinggi nilai kemurnian, ketulusan, kekudusan, dan keagungan dari hubungan kasih sayang antara cowok-cewek.

Mereka membenci orang yang memakai taktik, tehnik, tips and trick, atau strategi dalam hal percintaan. Siapapun yang menggunakan hal-hal seperti itu untuk mendapatkan kekasih dianggap rendahan dan menyedihkan.

Tapi bukan saja pelaku, pribadi menjadi korban dari hal-hal demikian juga akan dianggap sama rendahan dan menyedihkannya.

Selama ini udah terlalu banyak cerita tentang kerusakan yang disebabkan oleh manipulasi dalam berhubungan, jadi tidak heran para Prajurit Pembela Cinta itu langsung panas membara ketika melihat kehadiran saya,

But, really, peopleĆ¢€¦

You get it all wrong here.

What you may want to hate is the Game.

Not the players.

Jika kamu termasuk Prajurit Pembela Cinta seperti yang saya ceritakan di atas, saya yakin sekarang kamu sudah merasakan sedikit sentilan jauh di dalam hatimu.

Hatimu lebih pandai meresponi kebenaran daripada otakmu yang selalu penuh dengan prejudis dan impuls menghakimi itu. Itu sebabnya kamu masih terus mau melanjutkan membaca hingga sejauh ini.

Apa yang kamu lakukan itu sudah bagus, dan kamu tahu apa yang jauh lebih bagus lagi dan membuatmu lebih rileks karena tidak melakukan sesuatu yang bertentangan dengan kata hatimu yang lembut itu?

Yaitu dengan meneruskan membaca artikel ini sedikit lagi.

Jadi mari kita lanjutkan.

Prinsip Game adalah titik krusial utama yang menyebabkan kami mengembangkan skill ( jangan sensitif dengan skill karena setiap pria pasti melakukannya termasuk kakek dan ayahmu).

Tapi sebelum sampai sana, saya ingin kita sama-sama berangkat dari tempat yang sama dulu.

Bukankah tidak bisa dipungkiri lagi bahwa there is always a game in everything that we do in this world.

Yup.

Sebagian orang menyebutnya Sistem, sebagian lainnya Kebijakan, Adat, Norma, Undang-Undang, dsb tapi semuanya itu mengacu pada prinsip yang sama yakni jika kamu tidak mengikutinya, maka kamu akan kehilangan sesuatu atau ketinggalan dibandingkan orang lain.

Saya lebih suka menyebutnya sebagai Game agar tidak terkesan menakutkan.

Sebagaimana dalam petualangan cinta juga memiliki game-nya tersendiri.

Jika tidak ada game, mengapa perlu ada puluhan buku baru keluar setiap bulannya yang membicarakan tentang hubungan cinta?

Jika tidak ada game, mengapa kolom konsultasi romance selalu menjadi kolom wajib dalam setiap majalah yang populer?

Jika tidak ada game, mengapa kamu tidak bisa berhasil mendapatkan cewek-cewek yang kamu inginkan dengan cara menjadi dirimu yang apa adanya?

Jadi sampai di sini, saya pikir kita sudah sama-sama sepakat bahwa ADA GAME dalam dunia romance.

Dan ingat Kesuksesan kehidupan cinta tidak tergantung pada seberapa ganteng dan kaya dirimu, Yang paling penting adalah cukup apa adanya dan ga genit.

Dan satu yang harus kalian camkan wahai para pria, not playing games ON them, but playing games WITH them.

Kamu bisa saja menjadi cowok yang berbodi atletis, fashion trendy, dan tajir setengah mati, tapi tetap aja kepayahan untuk bisa mendapatkan hubungan dengan cewek yang kamu inginkan. Kamu tidak akan percaya berapa banyak teman saya yang seperti itu.

Faktor fisik dan kemapanan tentu mengambil andil yang bisa mendukung petualanganmu, tapi itu bukan kunci utama yang harus kamu miliki.

Saya punya seorang teman yang sama sekali tidak tajir, wajahnya agak lucu bahkan cenderung weird, dan payah dalam soal fashion, tapi dia memiliki jauh lebih banyak petualangan dengan cewek dan selalu bergonta-ganti dibandingkan dengan vokalis band berinisial A R I E L (loh?bukan inisial itu mas mas weleh kepriben) yang tenar sebagai artis itu.

Mengapa bisa begitu?

Karena Game romance memang tidak bertumpu pada faktor fisik dan uang, sobat!

Cewek terbiasa untuk berpikir kedua hal tersebut sebagai hal yang dangkal dan menjadi option preferensi paling akhir. Yang mereka cari sebenarnya jauh lebih dalam dalam keduanya.

Yaitu sinar kepemimpinan, petualangan, dan juga misteri.

Untuk cowok-cowok yang sudah memiliki kemapanan dan faktor fisik mendukung, tidak sulit bagi mereka untuk memancarkan ketiga sinar tersebut.

Jika kamu tajir dan ganteng, nyaris otomatis kamu akan berlagak dominan, mudah bergaul, dan juga punya serentetan hobi eksklusif yang sangat menarik.

Nah, frame value demikianlah yang saya yang ingin sampaikan. Saya memberikan setumpuk paradigma dan set perilaku yang akan membantu kamu untuk meningkatkan frame kepemimpinan, petualangan dan misteri kamu, tanpa peduli kamu secara fisik kurang menarik dan tidak kaya.

Saya percaya setiap cowok berhak memiliki kesempatan untuk mencoba mendapatkan cewek yang dia inginkan. Soal berhasil atau tidak adalah hal belakangan yang tidak terlalu penting.

Bahkan saya temukan jika kamu tidak terlalu berfokus pada keberhasilan, melainkan pada eksperimen dan bersenang-senang, justru kamu akan lebih cepat menemukan titik kepuasan yang diinginkan.

Orangtua kita sering menanamkan agar selalu mencari pacar yang berasal dari kelas finansial yang sama. “Jangan banyak maunya deh kalo cari cewek, cari aja yang sepadan dan emang mirip ama kita.”

Itu sebabnya kamu sering merasa desperate bila melihat cewek-cewek cakep di luar sana. Bukannya karena kamu memang tidak bisa mendapatkannya, tapi karena kamu sudah dibayang-bayangi oleh batasan diri dari orangtua tersebut.

Sekali lagi saya ulang, Game yang ada dalam pasar romansa tidak berpaku pada status finansial ataupun kondisi biologis yang kamu miliki.

Cewek tidak dangkal seperti kita yang sering terpaku pada faktor fisik dan penampilan. Mereka adalah makhluk dengan kepekaan tinggi yang lebih menghargai atraksi-atraksi yang mampu menggugah sisi emosionalnya.

Misalnya ketika kamu mampu membuatnya terkejut karena kamu menegur mereka dengan cara yang sama sekali tidak pernah dilakukan oleh cowok lain.

Atau ketika kamu cuek, bahkan meledek dia, ketika cowok di sekeliling sibuk menjilat demi mendapat perhatiannya.

Atau ketika kamu mendadak jadi orang yang sibuk dan tidak memiliki banyak waktu telpon-telponan dengannya karena sibuk dengan kegiatan dengan teman cowokmu.

Atau ketika kamu mendadak menyuruhnya (bukan mengajak) main bowling, billiard atau games lain yang kamu tahu dia belum pernah lakukan.

Hal-hal di atas cuma secuil pola perilaku yang akan membuat performa Game Romance-mu jauh sangat meningkat, dibandingkan kamu berusaha menjilat atau menyakinkan bahwa kamu adalah calon pasangan yang paling bermutu dibanding cowok lainnya.

Saya bukan mau so ngajarin, tapi maksut saya cuma pengen berbagi cerita, NO OFFENSE yaaaa ahiwww

Pertama, bahwa tidak peduli berapa juta orang menyangkalinya, petualangan romance tidak lebih dari sebuah set game yang besar. Romance bukan sesuatu yang terjadi begitu saja, apalagi tidak diduga-duga seperti yang digambarkan dalam film-film Hollywood.

Kedua, game romance tersebut bekerja dengan teknik dan paradigma yang sama sekali bertentangan dengan common sense kamu. Selama ratusan tahun kita dimanjakan oleh stereotip percintaan yang absurd, jauh dari kenyataan.

Saya menghabiskan waktu bertahun-tahun membaca berbagai referensi tentang perkembangan kebudayaan manusia, mulai dari pendekatan biologis, sosial hingga psikologis.

Saya menemukan bahwa kita semua di dunia ini tidak lebih dari aktor dan aktris yang harus bermain semaksimal mungkin dalam berbagai skenario besar.

Seorang pemikir terkemuka dalam bidang hubungan cowok-cewek pernah berkata, “Ketika Tuhan menciptakan pria dan wanita, Dia lupa memberikan manual tentang bagaimana memulai hubungan romance antar keduanya.”

Saya tidak mencoba mempengaruhi kalian ya, ini hanya ideologi saya dan kalian ngga bisa menyalahkannya.

Saran saya adalah, jika kamu curiga dan skeptis, itu adalah keputusanmu sendiri untuk menghabiskan waktu menjadi orang yang negatif dan berlelah-lelah membela idealisme yang hanya akan memberikanmu kepuasan mental belaka.

Itu sama seperti cowok jomblo yang berkata, “Gue jomblo bukan karena ngga bisa dapetin cewek, tapi emang gue jomblo by choice yang lebih fokus ama menikmati hidup dan nanti cewek juga bakalan datang dengan sendirinya. Gue ga putus asa sampe perlu pake tehnik atau permainan apa-apa, blablablaĆ¢€¦”

Yeah, right, yakety-yak whatever!

And that term, ‘jomblo by choice’, so ridiculous. Basically itu adalah reasoning yang biasa dikeluarkan oleh anak kecil yang takut untuk mengambil resiko dan benar-benar melakukan sesuatu untuk memperbaiki keadaannya yang serba malang.

Anyways, kamu tidak perlu mengikuti HSEW atau pelatihan lainnya untuk benar-benar mengalami sendiri bahwa ada Game Yang Unik dalam petualangan romance ini.

Once again, guys, you are free to hate the game, but it’s no use to hate the players. No need to hate ME cos we don’t create the game; I just exposed and made it teachable. Even the players sometimes hate the game, but they still need to learn it because they are trying to do their best to improve their life and reach their dream.

Apakah kamu termasuk pribadi yang suka berfokus pada kebencian, atau pribadi yang suka belajar dan meningkatkan kualitas hidupnya sebaik mungkin?

Apapun pilihanmu, Saya akan tersenyum dan berharap kamu akan menemukan kepuasan di sana.

May the force be with you.

Regards, Miqdad Addaushy ;)

2 komentar:

  1. Yuhuuuuuu, yes I agree with you, this game, life also like film film we running scenario, Precisely the secret scenario, khahahaha knp bisa nemu blog ini ya hahaha aneh ckckckckc

    BalasHapus